BEGAL SADIS BELAWAN

Dalam Perspektif Psiko-Sosial
Tingginya kasus “Begal” atau kejahatan jalanan di Belawan akhir-akhir ini, selain sudah mencapai titik nadir melampaui batas toleransi keamanan, ternyata menimbulkan anomali terjadi kekosongan kekuasaan (Vacuum of Power), dan warga Belawan tampak telah kehilangan kepercayaan terhadap prosedur keamanan sipil yang dianggap lamban.

Sehingga personel Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) Kodaeral I Belawan turun tangan amankan para pelaku begal.

Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan besar, “Mengapa militer yang berada di garda depan, dan apa yang sebenarnya terjadi dalam struktur psiko-sosial masyarakat kita ?”

Tetapi, kejahatan jalanan atau “Begal Sadis” di Belawan tidak cukup dipahami melalui perspektif kriminologi saja, melainkan harus dikaji melalui cara pandang holistik dan multidimensional.

Berbagai kejahatan yang terjadi belakangan di Belawan tidak terlepas dari Bertemunya 3 Faktor :

“Pelaku termotivasi secara psikologis, target yang rentan di jalur logistik, dan yang paling krusial adalah -Absenya Penjaga Keamanan yang Kompeten (Absence of Capable Guardians)

​Untuk memahami mengapa begal begitu marak di Belawan, kita harus membedahnya melalui pendekatan psiko-sosial masyarakat. Kejahatan itu terjadi karena banyak faktor.

Kebutuhan “soal perut” hanya salah satu diantaranya sebagai motif terjadi kejahatan.

Hasil dari konstruksi mental yang kompleks sangat signifikan menimbulkan kejahatan.

Melalui lensa Social Learning Theory dapat digambarkan bahwa pemuda di Belawan tumbuh dalam lingkungan di mana kekerasan fisik seringkali menjadi alat resolusi konflik utama. Istilah anak Medan “Hidup Itu Keras Jenderal”.

Ketika kekerasan disaksikan setiap hari, maka terjadi proses penumpulan empati (desensitisasi). Para pelaku begal mengalami Deindividuasi, saat beraksi dalam kelompok, rasa tanggung jawab pribadi mereka larut dalam anonimitas massa.

​Di tengah kemiskinan struktural, pemuda kehilangan akses untuk meraih status sosial melalui jalur prestasi atau ekonomi formal.

Sehingga muncul pikiran pintas mengganggap membegal menjadi mekanisme kompensasi psikologis untuk meraih Maskulinitas Dominan.

Senjata tajam dan motor rampasan adalah simbol kekuasaan yang memberikan rasa “berkuasa” di tengah perasaan tidak berdaya sebagai warga kelas bawah.

Hal ini diperparah dengan Moral Disengagement (pelepasan moral), di mana pelaku meyakinkan diri bahwa korban adalah “orang luar” yang layak dirampas sebagai bentuk distribusi kekayaan yang liar.

​Secara geografis, tata ruang Belawan yang dipenuhi lorong sempit dan akses perairan memudahkan pelaku untuk melakukan hit and run.

Ketika figur otoritas sipil (Polisi) dianggap tidak memiliki “gigi” atau frekuensi kehadiran yang rendah di titik-titik buta (blind spots), maka hambatan psikologis pelaku untuk beraksi akan runtuh.

KESENJANGAN EKONOMI

Belawan adalah manifestasi dari Dualisme Ekonomi. Di satu sisi, terdapat ekonomi formal yang canggih di pelabuhan dengan perputaran uang triliunan rupiah. Di sisi lain, terdapat ekonomi informal masyarakat pesisir yang terpinggirkan.

Ironisnya, fenomena yang terjadi bukan sekadar akibat kemiskinan absolut, melainkan kecemburuan sosial yang tajam. Ketimpangan ini menghancurkan ikatan sosial dan menciptakan “pembenaran moral” bagi tindakan kriminal.

​Aksi warga yang menyerang petugas menunjukkan fenomena keterikatan bathin yang mengerikan diantara masyarakat.

Masyarakat menyerang aparat keamanan sebagai pertanda bahwa kelompok kriminal telah melakukan infiltrasi ke dalam struktur sosial warga melalui interaksi sosial “balas budi”, seperti membagi hasil kejahatan untuk membantu warga yang sakit.

Akibatnya, secara psikologi massa, warga mengalami pergeseran loyalitas. Mereka melihat aparat sebagai “gangguan” terhadap stabilitas ekonomi informal yang disokong oleh para pelaku kriminal. Hukum negara kalah bersaing dengan hukum komunitas yang menyimpang.

Ketimpangan ekonomi dan kemisikinan semakin masif karena terjadi “Youth Bulge”, yaitu kepadatan penduduk yang tinggi di Belawan disertai dengan proporsi pemuda yang besar tanpa ketersediaan lapangan kerja produktif.

Tanpa adanya penyaluran energi produktif, terjadi kondisi Anomie, sebuah keadaan di mana individu merasa terasing dari norma masyarakat karena tujuan hidup yang sukses secara materi tidak mungkin dicapai dengan cara legal.

Tekanan psikososial ini mendorong pemuda untuk memberontak terhadap sistem melalui jalur kriminalitas jalanan.

Oleh karena itu Belawan tidak hanya butuh patroli Polisi, tapi butuh rekayasa kependudukan dan distribusi ekonomi yang menyentuh akar rumput.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top